SMERU Memetakan Tiga Alternatif Solusi untuk Menjawab Tantangan Pendidikan Nasional

Lintasberita.net, Jakarta - Salah satu narasumber ahli yang hadir pada Focus Group Discussion (FGD) dalam acara Education Outlook adalah peneliti dari SMERU Research Institute, Goldy F. Dharmawan. Diskusi bertema “Revolusi Pendidikan Tinggi di Indonesia” ini dihelat Dompet Dhuafa Pendidikan pada Rabu (22/1) siang di Jakarta.

Goldy pun memaparkan beberapa solusi yang diformulasikan oleh SMERU untuk menjawab tantangan pendidikan Indonesia. Solusi tersebut diformulasikan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan SMERU selama beberapa waktu terakhir.

Sebelum memaparkan alternatif solusi apa yang bisa dilakukan, Goldy terlebih dahulu memaparkan tantangan apa saja yang dihadapi dalam pendidikan nasional. Pertama, sebagian besar anak miskin tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. “Perpindahan jenjang masih menjadi faktor utama putus sekolah, khususnya untuk anak-anak dari keluarga miskin,” papar Goldy. Hal ini sebagian besar dikarenakan ketiadaan biaya untuk melanjutkan sekolah.

Tantangan kedua adalah masih banyaknya penduduk usia muda yang tidak bersekolah. “Berdasarkan Susenas 2018, 144.170 orang atau sekitar 0,88% penduduk yang berusia 21-25 tahun di Indonesia, tidak bersekolah,” ungkap Goldy.

Tantangan ketiga menurut temuan SMERU adalah sebagian besar siswa miskin bersekolah di sekolah swasta berkualitas rendah. “Sedangkan, sekolah negeri, yang disubsidi oleh pemerintah dan umumnya kualitasnya lebih baik, lebih banyak diisi oleh siswa berlatar belakang mampu,” terang Goldy.

Dari ketiga tantangan di atas, Goldy kemudian memaparkan tiga alternatif yang diformulasikan SMERU. “Ada tiga alternatif solusi yang bisa dilakukan untuk menjawab tantangan pendidikan Indonesia saat ini. Satu, memodifikasi kebijakan PPDB sekolah negeri. Dua, mendorong konsep ‘sekolah kolaborasi’. Tiga, melakukan induksi dengan program pembelajaran mandiri.”

Show Disqus Comment Hide Disqus Comment

Disqus Comments