Pasang Iklan Anda Disini
Pasang Iklan Anda Disini

Hari Terakhir Untuk Salma


Hari ini cukup cerah, hari yang sangat menyenangkan untuk pergi ke sekolah. Namun tidak untuk salma. seorang gadis kecil yang imut dan lucu itu tak bisa bersekolah karena harus menjaga kakeknya yang sakit keras. Sebenarnya ia ingin masuk sekolah tapi ia tidak ingin kakeknya kenapa-napa. Jadi ia urungkan niat sekolahnya.
“salma, kamu tidak sekolah?” tegur sang kakek.
“tidak kek. Salma ingin jaga kakek.” jawab salma sambil mengusap air mata.
“kakek istirahat dulu ya?. Salma mau beli nasi uduk dulu.” Lanjut gadis kecil itu.
Salma pergi ke tempat penjual nasi uduk lalu membelinya dan pulang. Sampai di tengah jalan ada sebuah mobil menabrak tubuh salma. Aaakkkhhh!!!. saat itu juga salma pingsan. Pengemudi mobil itu segera turun dan melihat keadaan salma yang tergeletak di depan mobilnya dengan luka di bagian kepala dan tangan lecet-lecet.
“pa! gimana ini?” Tanya seorang wanita panik.
“sekarang kita bawa ke rumah sakit saja, ma?” tegas sang suami.
“ayo pa?!” ajak sang istri dan membukakan pintu mobil, sedang sang suami membopong tubuh salma.
SalmaSampai di rumah sakit dokter dan tim medis segera menangani gadis yang berumur sekitar 8 tahun itu.
Tiga puluh menit lamanya. Salma pun terbangun dari pingsannya. Di samping salma sudah ada sepasang suami isteri yang membuat salma bingung.
“kalian siapa?” Tanya salma bingung.
“saya pak ridwan dan ini bu riska istri saya.” Tunjuk pak ridwan pada bu riska dan bu riska pun tersenyum kepada salma.
“kakek!!!” teriak salma.
“tenang nak. Nama kamu siapa?” Tanya bu riska mencoba menenangkan salma.
“salma. Tolong antarkan saya pulang!” rengek salma.
“tapi nak. Kondisi kamu masih lemah” kata bu riska mencegah
Tanpa mendengarkan penjelasan bu riska dan pak ridwan, salma turun dari anjang rumah sakit dan lari untuk pulang. Namun usaha salma dicegah oleh pak ridwan.
Akhirnya salma diantarkan pulang oleh pak ridwan dan bu riska. sampai di rumah salma membuka pintu dan segera berlari ke kamar kakeknya. Salma kaget melihat kakeknya jatuh dari tempat tidur. Ia pun histeris, pak ridwan dan bu riska langsung menengok salma dan membantunya membangunkan kakek salma.
“pak, bu. Maafkan saya karena saya telah merepotkan bapak dan ibu?” ujar salma.
“tidak apa nak. Anggap saja ini permintaan maaf dari kami.” Jawab bu riska dengan senyuman yang tulus dan penuh cinta kasih seorang ibu itu.
“papakkk… bub buukkkk?” panggil sang kakek dengan nafas tersengal-sengal.
“iya pak?” jawab pak ridwan mendekati kakek salma. Bu riska dan salma keluar dari kamar, mereka meninggalkan pak ridwan dan kakek salma berdua di kamar.
Tiga puluh menit berlalu…
Salma dan bu riska kemudian masuk kamar setelah mereka dipanggil oleh pak ridwan. Pada saat salma masuk ke kamar kakeknya, beliau menghembuskan nafas terakhirnya dihadapan sang cucu. Salma pun menangis histeris, karena ia kehilangan anggota keluarga satu-satunya yang ia miliki. Sebelumnya ia kehilangan kedua orang tuanya yang meninggalkan karena kecelakaan pada umur 2 tahun. Kini ia harus kehilangan kakeknya yang sangat ia hormati dan ia sayangi.
Pukul 14.00 kakek salma dikebumikan. Kini salma hidup sendiri. Di wajah salma terdapat guratan wajah kekecewaan dan sesal yang amat mendalam.
“salma?” panggil bu riska memecahkan lamunannya.
“iya bu.” Jawab salma lesu.
“salma tinggal sama siapa sekarang?” Tanya bu riska.
“sendiri’ lirihnya sambil memandangi foto sang kakek.
“mau tidak salma tinggal sama ibu dan bapak?” pinta bu riska.
“tidak bu, terima kasih. Saya tidak ingin merepotkan ibu lagi.
“tidak sama sekali salma.” Sahut pak ridwan.
“lagian ini amanah dari bapak dodi, kakek kamu. beliau bilang jiak kami tidak keberatan kamu disuruh tinggal sama kami. Dan kami sama sekali tidak keberatan.” Lanjutnya.
Setelah 7 hari kematian kakek salma. Salma remi diangkat anak oleh bapak ridwan dan ibu riska. Mereka sangat menyayangi salma seperti mereka menyayangi putri kandung mereka sendiri.
Enam tahun kemudian…
“bunda… bunda nggak libur?” Tanya salma pada bu riska.
“iya sayang, bunda tidak libur. Ada apa nak?” selidik bu riska.
“aku pengen bunda nganterin aku beli novel?”
“kan ada bi nem. Sama bi nem aja ya?”
“ya okey deh.” Jawab salma cemberut Karena ia merasa kecewa sama bundanya.
“bunda berangkat dulu ya?. Dihabsin lo breakfastnya?” pesan bunda. Salma hanya menganggukan kepala dengan seutas senyum keterpaksaan. Akhirnya bunda riska hilang dari pandangannya. Sedangkan ayahnya sudah berangkat sehabis sholat subuh tadi. Kini tinggal salma, bi nem, dan mang ujang yang di rumah.
Pagi itu wajah salma sedikit kelihatan pucat. Bi nem juga merasakan beda dengan wajah salma, sebenarnya ia tidak ingin mengantarkan salma ke bookshop. Tapi salma merengek minta diantarkan, apalah daya bi nem untuk menolak ajakan nona majikannya itu. Akhirnya dengan perasaan cemas bi nem mengantarkan salma ke book shop dan mendampinginya dalam memilih-milih buku.
Sampainya di bookshop salma segera memilih-milih novel dan buku-buku yang ia butuhkan. Habis itu ia segera pulang karena kakinya terasa berat untuk berjalan. Jadi ia berjalan dengan kaki diseret.
Di dalam mobil salma menutup telinganya dengan headsheat dan mendengarkan lagunya Glen Fredly kasih putih. Sambil menahan rasa sakit di kakinya. Wajah cantiknya dan anggun itu kini tertutup dengan wajah yang amat pucat. Beberapa kali bi nem Tanya keadaan salma namun salma hanya member jawaban ‘tidak apa-apa bi’ hingga bi nem jengkel.
Sampai depan rumah, salma dalam keadaan tidur, bi nem membangunkannnya namun salma tak kunjung bangun. Seketika bi nem terkejut dan memanggil mang ujang. Mang ujang berinisiatif membawa nona majikannya ke rumah sakit.
Di rumah sakit, dokter dan tim-timnya segera menangani keadaan salma. Mang ujang segera menghubungi tuan dan nyonya majikannya yang sedang berada di kantor. Satu jam lamanya pak ridwan dan bu riska menerobos padatnya kendaraan di ibukota akhirnya datang ke rumah sakit dengan membawa kepanikan.
“gimana bi keadaan salma?” Tanya bu riska gugup.
“belum tau nya.” Jawab singkat bi nem.
Dokter hariawan pun keluar dari ruangan dimana salma dirawat. Pak ridwan segera mendekatinya sambil bertanya. “salma sakit apa, dok?” bu riska juga mengikuti langkah pak ridwan yang mendekati dokter hariawan.
“kami tidak menduga jika putri bapak terkena kanker kaki!” tegas dokter hariawan.
Mendengar penuturan dokter hariawan bu riska seketika pingsan dan dibawa ke UGD ditemani bi nem. Pak ridwan hanya duduk termenung membayangkan putri semata wayangnya bertarung dengan penyakit ganas itu.
“ya allah, salma. Kenapa kamu yang harus menanggung semua ini. Maafkan ayah.” Lirih pak ridwan.
“lebih baik, bapak masuk ke dalam dan melihat keadaan putri bapak?” saran dokter hariawan.
Setelah satu bulan salma dirawat. Akhirnya hari ini ia boleh pulang. Ia telah menyelesaikan rentetan pengobatan, dari kemoterapi sampai ia harus merelakan kedua kakinya diamputasi.
Kini salma tidak seperti dulu lagi, ia lebih suka menyendiri dan tertutup. Hingga suatu hari ia dijenguk oleh dokter hariawan. Saat itu ia sedang manatap ikan-ikan di aquarium, tepatnya di ruang depan. Tiba-tiba sebuah sentuhan lembut mendarat di bahu kirinya.
“salma” sapa sang dokter ramah.
“dokter?. Kok bisa ada disini?” Tanya salma kaget serta diselimuti kebingungan.
“bisa lah… dokter kan?” dokter muda itu pun tak melanjutkan ucapannya.
“dokter apa?” selidik salma.
“dokter kan superman!” jawab dokter, membuat salma tertawa lepas membuat ayah dan bundanya senang.
Dokter hariawan setiap hari pergi menemui salma untuk memberi semangat hidup lagi.
“salma, dengar kata kakak. Meski kamu tak punya rambut dan kaki. Kamu tetap tampak cantik.” Kata dokter hariawan yang biasa salma panggil kakak.
“tapi salma malu, kak. gimana cantik orang rambut aja nggak punya. Kata bunda mahkota wanita itu ada di rambut.” Tegas salma dengan luluhan air mata di atas kursi rodanya.
“tidak salma. Kita bisa ganti kok dengan cara salma pakai jilbab. Kakak yakin salma pasti tampak lebih cantik.” Puji kakak. Sambil mengusap butiran air salma dan memegangi kedua tangan salma.
“sekarang salma ingin apa untuk mengisi hari-hari salma?” lanjutnya.
“salma tidak ingin apa-apa. Kecuali untuk menyusul kakek salma.”
“huss… gak boleh ngomong gitu sayang. Lebih baik salma bikin cerita, kayak pasien kakak dulu yang sekarang udah meninggal karena terkena kanker kaki.”
“sama kayak aku dong kak?”
“iya. Dia punya semangat hidup yang sangat tinggi. Namun ia tidak bisa bertahan lagi. Mungkin sudah takdir. Sekarang salma mau tidak seperti pasien kakak itu?”
“mau kak. tapi kakak janji mau baca cerita salma nantinya.” Ujar salma sambil mengangkat jari kelingkingnya.
“iya deh. Kakak janji.” Jawab dokter muda dengan mengacungkan jari kelingking dan menggandengnya. Ia juga mengusap kening salma.
Kini salma telah memakai jilbab dan ia gunakan waktu-waktunya untuk membuat cerita. Sampai-sampai ayah dan bundanya kagum kepadanya. Sesuai dengan janjinya, dokter hariawan membaca cerita yang ditulis oleh salma, sambil meneteskan air mata karena bangga kepada salma.
‘di usianya yang menginjak remaja. Ia tidak malu dengan kondisinya yang tidak punya rambut dan kedua kaki. Ia masih semangat membuat cerita yang membuat orang-orang beruntung di sekitarnya merasa malu karena orang yang sedang sakit dapat mengerjakan pekerjaan yang lumayan memeras otak itu.’
“kakak… salma ingin mendengarkan kakak menyanyi lagunya glen fredly yang kasih putih.” Pinta salma.
“iya. tapi suara kakak nggak bagus.” Jawab sang dokter dengan mengusap kening salma yang sedang duduk di atas kursi roda dengan memendangi taman rumahnya lang lumayan luas itu.
Dokter hariawan pun mulai melantunkan lagunya. Salma yang duduk di sampingnya lambat laun memejamkan matanya. Hingga lagu yang dokter dendangkan selesai, salma tak juga membuka mata, wajahnya pucat, sekujur tubuhnya dingin. Seketika dokter hariawan berteriak “salma!!!” ia pun menggendong salma. Disaat itu ayah dan bunda salma sedang bisnis di luar negeri. Dokter hariawan segera menghubungi ayah dan ibunda salma namun tidak bisa.
Kini salma telah kembali kepada Allah. Hanya sebuah cerita yang selalu dikenang oleh oleh dokter hariawan yang berjudul ‘Aku Ingin Punya Rambut’. Pagi harinya jasad salma dikebumikan di dekat makam sang kakek. Para pembaca cerita salma juga mengantarkan hingga tempat peristirahatannya yang terakhir. Namun ayah dan bunda salma datang setelah 7 hari kematian salma. Mereka sangat, sangat, dan sangat kecewa serta segumpal penyesalan di dalam hati.
Iklan Anda Have you ever dreamed to live in Vanuatu? Well, your dreams may come true! Visit the site https://vrp-mena.com/lang/index.php to learn how it is possible. Musical Source provides the most up-to-date information on synthesizers for sale at Amazon in the UK. For more details visit this site: https://www.musicalsource.co.uk/synthesizers.php

Artikel Menarik Lainnya :

Loading...

Disqus Comments
© 2017 lintas berita - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger